Rektor UNM, Prof. Dr. Arismunandar, M. Pd., mengukuhkan Prof. Dr. Andi Ima Kesuma I. C., M. Pd., sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Sejarah dan Kepariwisataan, serta Prof. Dr. Gufran D. Dirawan, M. EMD., sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Serta melepas Prof. Dr. Darmawan Mas’ud Rahman, M. Sc., sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Antropologi, dalam Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar UNM yang bertempat di Auditorium Amanagappa UNM, pada (13/10).
Pengukuhan dan Pelepasan Guru Besar UNM itu, dihadiri oleh Majelis Guru Besar UNM, dosen, pegawai, dan civitas akademika UNM. Di deretan kursi undangan, tampak Walikota Makassar, Ir. Ilham Arif Sirajuddin, MM., duduk bersama undangan lainnya. Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar UNM dipimpin oleh Rektor UNM, Prof. Dr. Arismunandar, M. Pd..
Prof. Dr. Andi Ima Kesuma I. C., M. Pd., menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Politik Ranjang Bugis – Makassar dalam Merajut ke-Indonesiaan”. Menurut Prof. Dr. Andi Ima Kesuma I. C., M. Pd., politik ranjang untuk memperoleh peran sosial politik dalam lingkup kekuasaan dapat dikatakan “sumbangan” terbesar dari sejarah orang-orang Bugis Makassar pasca Perjanjian Bongayya melalui lahirnya manusia baru nusantara dari perkawinan campuran dengan warga setempat.
“Akulturasi budaya pun terjadi. Di sanalah akar kemajemukan yang menjadi kekuatan bangsa disemai dalam taman ke-Indonesiaan kita hari ini,” papar peraih Woman Inspiration in South Sulawesi PKS itu. Lebih lanjut dicontohkan, politik ranjang ditempuh oleh Syekh Yusuf yang menikahi saudara Sultan Ageng Tirtayasa, puteri Sultan Giri, puteri Syekh Ahmad Semarang, dan puteri Seilon, serta Kare Kontu. Dari isteri-isteri Syekh Yusuf lahir dua belas anak, enam laki-laki dan enam perempuan.
Konsep politik ranjang dapat pula dilihat pada penelusuran genetis DR. Wahidin Sudirohusodo yang berawal pada bangsawan Bugis Makassar, Karaeng Daeng Naba yang mengembara ke Jawa. Konsep politik ranjang tidak terlepas dari strategi dan prinsip tiga ujung (tellu cappa) yang digunakan oleh orang Bugis-Makassar untuk mencapai kejayaan dalam perantauan. Pertama, menggunakan ujung lidah, maknanya orang Bugis-Makassar berkomunikasi, berinteraksi, dan beradaptasi dengan orang setempat.
Mereka selalu tampil dan meyakinkan baik dalam perbincangan maupun dalam perundingan sehingga nampak orang Bugis-Makassar mampu beraktivitas layaknya penduduk setempat. Kedua, menggunakan ujung keris, maknanya menggunakan strategi kekerasan dalam meraih kejayaan. Ketiga adalah ujung kelaki-lakian, bermakna dalam meraih kejayaan dengan cara memperisteri anak bangsawan atau salah seorang puteri tokoh masyarakat setempat.
Selain Prof. Dr. Andi Ima Kesuma I. C., M. Pd., Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar UNM juga mendengarkan orasi ilmiah dari Prof. Dr. Gufran D. Dirawan, M. EMD., yang menyampaikan orasi berjudul “Ecological Footprint : Relasi Manusia dan Lingkungan”, serta orasi ilmiah dari Prof. Dr. Darmawan Mas’ud Rahman, M. Sc., yang membacakan orasi berjudul “Cara Berpikir Barat Versus Cara Berpikir Timur, Bagaimana Menyikapinya?”
Rektor UNM. Prof. Dr. Arismunandar, M. Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa terimakasih kepada Prof. Dr. Darmawan Mas’ud Rahman, M. Sc., yang telah mengabdikan diri bagi kemajuan UNM, dan menyampaikan selamat kepada Prof. Dr. Andi Ima Kesuma I. C., M. Pd., dan Prof. Dr. Gufran D. Dirawan, M. EMD., yang berhasil meraih gelar tertinggi dalam dunia pendidikan. (Isnaniah Nurdin/Humas)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar